Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Februari 2012

SUBAWI YG MENGELUARKAN BERAS




Karena kuil Hwaamsa terletak jauh dari desa penduduk, maka para biksu susah mendapatkan pangan. Pada zaman dahulu, seorang biksu bertapa di kuil itu. Walaupun tidak bisa makan karena kekurangan makanan, tapi biksu itu berdoa dengan sangat rajin. Pada suatu hari, biksu itu tertidur selama berdoa. Dalam mimpinya, muncullah Buddha lalu memberikan sebatang tongkat kepada biksu itu dan berkata. "Pukullah batu itu. Kamu akan mendapat keuntungan." Ketika biksu itu terbangun karena kaget, dia dapat menemui sebatang tongkat di sisinya. Hari esoknya, biksu itu membawa tongkat ke tempat batu besar itu dan memukul batu itu satu kali. Seketika itu, beras untuk cukup dimakan sekali keluar dari batu itu. Biksu itu berpikir 'inilah rezki untuk saya dari Buddha'. Kemudian, biksu itu menanak nasi dengan beras yang diambil dari batu itu pada setiap saat makan. Biksu itu dapat terlepas dari kekhawatiran akan pangan dan bertapa dengan sungguh-sungguh selama beberapa tahun. Akhirnya, dia menjadi biksu besar. 

Setelah pengalaman biksu itu tersebarluaskan, maka biksu-biksu mendatangi kuil tersebut dari pelosok negari. Mereka mengira ada beras di dalam batu itu, sehingga melubangi batu itu dengan tongkat besi. Namun yang keluar dari batu itu adalah darah, bukan beras. Semenjak itu, beras tidak keluar dari batu tersebut.
Infromasi Wisata

Batu yang berkisah legendaris itu ada di bagian selatan seberang Kuil Hwaamsa di Kabupaten Goseong, Provinsi Gangwon. Batu raksasa bernama Subawi memiliki sebuah kubangan besar di bagian atasnya dan diketahui tidak pernah kehabisan air di dalamnya. Sebab itu air itu selalu diambil untuk dipakai pada acara selamatan untuk berdoa hujan turun pada saat musim kemarau. 





Post By : HGY
Source  : KBSWorld

RASA CINTA DAN MARAH BERUANG



Pada zaman dahulu, ada sebuah gua di gunung Yeonmi di seberang sungai Geum. Di gua itu tinggallah seekor beruang betina. Suatu hari, seorang pemungut kayu bakar pergin ke gunung itu untuk mengumpul kayu, lalu beristirahat karena kecapekan. Beruang betina yang lalu lalang ingin pulang menemukan pria yang memungut kayu bakar itu. Beruang betina berpikir pria itu adalah tunangannya, jadi melarang pria itu keluar dari gua itu. Selama tinggal bersama-sama, beruang betina selalu menutupi gua dengan batu besar, saat ia pergi supaya pria itu tidak bisa melarikan diri. Sang beruang betiana selalu membawakan makanan untuk pria itu. Setelah 2 atau 3 tahun berlalu, sang beruang betina melahirkan 2 ekor anak. Sejak itu, sang beruang betina mulai mempercayai pria itu tidak berlari sehingga tidak lagi menutupi gua. Suatu hari, sang beruang pergi tanpa menutupi gua. Namun ketika pulang, sang beruang menemukan pria itu sudah melarikan diri. Sang beruang mengejarnya ke arah sungai Geum.
Pria itu sedang menyeberangi sungai. Sang beruang betina memanggilnya dengan berteriak-teriak, tapi pria itu tidak ingin kembali. Akhirnya, sang beruang betina mengancam pria itu bahwa ia akan membunuh anak-anaknya jika pria itu tidak kembali. Walaupun demikian, pria tidak kembali dan sang beruang betina menjatuhkan anak-anaknya ke dalam sungai, lalu ia juga menenggelamkan diri. Dengan latar belakang ini, tempat dimana sang beruang betina menjatuhkan diri dan anak-anaknya itu diberinama Gomnaru, artinya tempat perahu beruang. 

Infromasi Wisata 
Gomnaru yang bermakna tempat perahu beruang terletak di tepi sungai Geum di daerah Wungjin, kota Gongju, provinsi Chungcheong Selatan. Di dekatnya terdapat juga sebuah candi bernama Gomnarusadang dimana mengadakan selamatan untuk beruang yang merupakan lambang di daerah Gongju itu. Selain legenda Gomnaru itu terdapat banyak kisah legendaris yang berkaitan dengan beruang di seluruh Korea karena beruang merupakan binatang yang sangat akrab dengan bangsa Korea sampai muncul dalam legenda pendirian negara Korea. 



Post By : HGY
Source  : KBSWorld

BATU MENANGIS



Ketika terjadi invasi Jepang ke Korea yang disebut Imjin Weoran, pemerintah daerah Jinju memperbaiki dinding batu istana yang terbuat dari tanah. Dalam pekerjaan perbaikan itu seluruh warga penduduknya, baik rakyat jelata maupun biksu mengumpulkan batu-batu dan membentengi istananya. Suatu hari seorang biksu bernama Myeongseok melewati depan desa untuk pulang ke kuilmua setelah pekerjaan gotong royong tersebut selesai. Tiba-tiba dia melihat dua buah batu yang sedang menggelinding. Biksu Myeongseok merasa aneh dan bertanya sambil komat-komit sendirian, "Hai Batu-batu! hendak bergegas-gegas kemana kah kalian?" Batu-batu segera menjawab bahwa mereka sedang menuju ke tempat pekerjaan membentengi istana Jinju untuk menjadi batu dinding istana. Setelah mendengarnya, sang biksu memberitahukan kepadanya bahwa pekerjaan itu sudah selesai. Batu-batu yang mendengar hal itu kemudian berhenti dan mulai menangis meraung-raung di tempat mereka berhenti. Biksu Myeongseok yang menyaksikannya terkagum akan hal tersebut dengan mengatakan bahwa batu-batu ini sangat suci, kemudian dia menundukkan kepalanya sembilan kali ke arah kedua buah batu itu. 

Sejak saat itu Batu tersebut dinamakan Undol atau Myeongseok dalam karakter Cina dan lembah yang didatangi batu-batu itu disebut Gubaegol dan Gubokgol yang bermakna lembah dimana terjadi peristiwa sembilan kali menundukkan kepala. Dikatakan bahwa batu-batu itu menangis selama tiga hari pada saat terjadinya peristiwa penting dalam negeri.
Infromasi Wisata

Batu yang menangis setiap saat ada peristiwa penting di dalam negeri itu ada di desa Singi kota Jinju provinsi Gyeongsang Selatan. Batu menangis yang disebut Undol atau Myeongseok itu memiliki tinggi 75cm dan lingkar 220cm. Batu-batu itu ditetapkan sebagai Daftar Warisan Tradisional provinsi Gyeongsang Selatan No. 12. Mulai tahun 1970 penduduk daerah mengadakan selamatan bernama Undoljea pada setiap tanggal 3 Maret. Legenda asal usul dan selamatan Undoljea itu didasarkan pada kepercayaan masyarakat Korea yang suka menyucikan batu-batu. 


Post By : HGY
Source  : KBSWorld

ASAL USUL GUNUNG MAI




Pada suatu hari, seorang dewa dan dewi yang tinggal di langit turun ke gunung Mai dan asyik berjalan-jalan di desa sekitarnya sambil mengagumi pemandangan yang indah-indah. Menjelang waktu kembali ke langit, mereka berdua berselisih tentang waktu kepulang mereka. Dipikir-pikir mereka harus ke langit tanpa kelihatan orang, karena mereka adalah dewa-dewi dari langit. Maka, sang dewi menyarankan mereka pulang pada subuh hari sedangkan sang dewa ingin pulang pada malam hari. Akhirnya, sang dewa mengalah dengan sang dewi dan menentukan pulang subuh hari. Pada subuh harinya, kedua dewa-dewi menuju ke langit dengan menaiki puncak Mai jantan dan betina yang sedang meninggi. Pada saat itulah seorang ibu penghuni desa yang mengambil air sumur kebetulan menyaksikan puncak yang sedang meninggi dan berteriak, "Gunung sedang membesar! menuju ke langit!". 

Gara-gara teriakan ibu itu dewa-dewi terkejut dan menganggap mereka mendapat kemalangan dan tidak bisa kembali ke langit. Sang dewa menjadi marah, maka menendang bagian samping tubuh sang dewi. Sang dewi merasa sakit perut dan membungkukkan punggungnya. Oleh sebab itu, puncak Mai betina menjadi bungkuk. Ketika ditendang, bagian dalam tubuh sang dewi keluar dari perutnya dan mengalir ke bawah sepanjang punggung bukit. Kotoran dalamnya itu menjadi keras dan membentuk puncak kecil di bawah puncak Mai betina.
Infromasi Wisata

Gunung Mai terletak di kabupaten Jinan, provinsi Jeolla Utara. Gunung Mai itu memiliki dua puncak berbentuk telinga kuda dan berpasangan, yaitu puncak Mai jantan dan puncak Mai betina. Gunung Mai itu ditentukan sebagai Taman Nasional Provinsi Jeolla Utara pada tahun 1979 dan Objek Wisata Nasional Terkenal No.12 pada tahun 2003. 


Post By : Hwa Geum Yeon
Source  : KBSWorld

Minggu, 05 Februari 2012

ASAL USUL GUJEONGBONG



Pada zaman Tiga Kerajaan terdiri atas Goguryeo, Baekjea, dan Shilla, daerah dimana gunung Wolchul berada di miliki oleh kerajaan Baekjea. Pada waktu itu sering terjadi peperangan antar ketiga kerajaan tersebut untuk memperluas wilayahnya. Di kerajaan Baekjea ada seorang jenderal yang memiliki kesaktian. Namun dia tidak maju ke medan perang, malah bersenang-senang bersama dengan bidadari-bidadari di Gujeongbong gunung Wolchul itu setiap hari. Kemudian pada malam hari, dia menangkap dan membunuh jenderal-jenderal dari kerajaan Goguryeo dan Shilla. Sang Dewa langit melihat perilaku jenderal yang memiliki kesaktian ini menjadi marah. Sang Dewa berpikir bahwa jenderal sebagai seorang manusia ini sangat sombong karena tidak mengikuti perang dan bermain bersama bidadari-bidadari dengan mempercayai kesaktiannya saja. Akhirnya sang Dewa menyambarkan sembilan kali kilat halilintar lalu jenderal yang sombong itu meninggal karena tersambar kilat tersebut. Akibat sambaran kilat hililintar itu terbuat sembilan buah sumur pada Gujeongbong di gunung Wolchul. Selain itu terdapat juga batu-batu yang aneh dan membuat pemandangan indah yang luar biasa. 

Sebuah buku kuno berjudul tertulis bahwa Gujeongbong adalah puncak tertinggi gunung Wolchul. Di atas puncak terdapat sebuah batu besar dan tinggi. Di bagian datar batu itu terdapat juga sembilan buah lubang. Dari bentuknya itu pucak gunung ini diberi nama Gujeongbong. Diketahui pula sembilan lubang itu tidak pernah kehabisan air pada musim kemarau sekalipun.




Infromasi Wisata
Gunung Wolchul terkenal karena diterangi paling awal jika bulan terbit dari langit. Sejak zaman dahulu pemandangannya yang luar biasa ini sering dipuji oleh banyak penyair dalam puisi. Dari puncaknya yang bernama Gujeongbong dapat terlihat pemandangan laut selatan yang sangat indah.


Post By : HGY
Source  : KBSWorld