Selasa, 07 Februari 2012

Perbedaan Bahasa Korea Selatan Dan Korea Utara


Membaca berita bahwa Aktris Ha Ji Won kini sedang sibuk mempelajari bahasa Korea Utara untuk peran terbarungnya di Drama The King, menimbulkan banyak pertanyan kepada author, apa sih bedanya bahasa Korea Selatan dan Korea Utara. Bukannya mereka sama saja, khan sama-sama Korea?. Kenapa berbeda. Nah .untuk menjawabnya, author akhirnya bertanya sana sini termasuk colek si mbah google ...


 Kita telusuri dulu awal mulanya ya..

Bahasa nasional Republik Korea adalah bahasa Korea, yakni bahasa yang
digunakan warga Korea di semenanjung Korea. Kini sekitar 70 juta orang di Korea Selatan dan Korea Utara, serta sekitar 3 juta 500 ribu orang warga Korea di luar negeri menggunakan bahasa Korea.
Rumpun Bahasa Korea 
Dipercaya hingga sekarang Bahasa Korea termasuk rumpun Altaik.

Rumpun Bahasa Altaik
Bahasa Altaik meliputi bahasa Turki, Mongolia, Tungusik dan sebagainya mulai dari Siberia sampai Sungai Volga.
Bahasa Korea dan Rumpun Bahasa Altaik
Alasan bahasa Korea dipercaya termasuk rumpun Altaik, adalah karena bahasa Korea mempunyai kecirikhasan susunan yang sama dengan bahasa lain yang tergolong rumpun Altaik.

Bahasa Korea di Korea Selatan dan Korea Utara
Akibat semenanjung Korea terbagi cukup lama, heterogenitas bahasa antara Korea Selatan dan Korea Utara makin meningkat. Namun, perbedaan bahasa antar Korea, terdapat hanya dari makna kosakata, contoh penggunaan kosakata, istilah baru dan sebagainya, maka tidak ada masalah apa pun dalam komunikasi. Korea Selatan dan Korea Utara berusaha keras untuk mengatasi heterogenitas bahasa seperti itu, misalnya para pakar bahasa Korea Selatan dan Korea Utara bekerjasama meneliti bahasa.

Bahasa Dialek
  • Bahasa dialek Korea biasanya terdiri dari 6 jenis.
  • Dialek daerah timur laut = di propinsi Hamgyeong Utara, propinsi Hamgyeong Selatan dan propinsi Yanggang di Korea Utara
  • Dialek daerah barat laut = di propinsi Pyeongan Utara, propinsi Pyeongan Selatan, propinsi Jagang, dan daerah bagian utara propinsi Hwanghae di Korea Utara
  • Dialek daerah tenggara = di propinsi Kyeongsang Utara, propinsi Kyeongsang Selatan, dan sekitarnya.
  • Dialek daerah barat daya = di propinsi Cheola Utara, dan propinsi Cheola Selatan
  • Dialek pulau Jeju = di pulau Jeju dan pulau-pulau sekitarnya
  • Dialek bagian tengah = di propinsi Kyeonggi, propinsi Chungcheong Utara, Chungcheong Selatan, propinsi Kangwon, dan propinsi Hwanghae

Korea Utara berbagi Bahasa Korea dengan Korea Selatan. Terdapat perbedaan dialek di kedua-dua Korea, tetapi perbatasan Utara dan Selatan tidaklah mewakili perbatasan bahasa secara jelas. Sementara di Korea Selatan lebih liberal, adopsi istilah-istilah modern dari bahasa asing lebih dibatasi di Korea Utara. Hanja (Karakter Cina) tidak lagi dipakai di Korea Utara, meski kadang-kadang masih dipakai di Korea Selatan. Kedua-dua Korea berbagi sistem penulisan fonetik yang disebut Chosongul di utara dan Hangul di selatan Zone Demarkasi. Romanisasi berbeda di kedua-dua negara, Korea Utara menggunakan sistem McCune-Reischauer dengan sedikit modifikasi, dan Korea Selatan menggunakan Romanisasi Korea yang Direvisi.

1. Sistem McCune-Reischauer
sistem romanisasi ini yang dibuat oleh 2 orang dari Amerika Serikat yang bernama George M. McCune dan Edwin O. Reischauer. Diciptakan pada tahun 1937. Sistem ini diciptakan dengan tujuan agar orang asing dapat mengucapkan pelafalan Korea mendekati dengan pengucapan aslinya. Karena dibuat oleh orang Amerika, maka sistem McCune-Reischauer ini hanya menulis cara pelafalan (cara membaca)nya saja dan tidak mengubah setiap kata dengan benar. Di Korea Selatan sistem romanisasi ini secara resmi digunakan pada tahun 1984 sampai tahun 2000, sedangkan di Korea Utara sistem McCune-Reischauer ini terus digunakan secara resmi sampai sekarang. Dan sistem ini juga banyak digunakan di luar Korea.

2. Revised Romanization of Korean (Romanisasi Korea yang Disempurnakan)
Diumumkan oleh Menteri Kebudayaan, Olah raga dan Pariwisata Korea Selatan. Dirilis sejak tanggal 7 Juli 2000, menggantikan sistem romanisasi McCune-Reischauer. Sistem ini memiliki beberapa tujuan antara lain, memudahkan penulisan di komputer dan juga mempromosikan secara terus-menerus peromanisasian bahasa Korea oleh penutur asli Korea demi penerjemahan yang lebih baik tentang pentingnya karakter bahasa mereka. Dan semua buku pelajaran Korea diharuskan memakai sistem baru ini sejak tanggal 28 Februari 2002.

Mungkin saduran kisah ini bisa memperjelas;

Perbedaan antara Korea Utara and Korea Selatan, tak hanya soal politik dan ekonomi.

Bahasa kedua Korea itu juga tak sama.

Sejak kedua negara itu pecah lebih dari enam puluh tahun yang lalu, dialek bahasa mereka berubah.

Alhasil, ribuan pengungsi asal Korea Utara yang menetap di negeri Ginseng kurang mengerti bahasa setempat.

Jason Strother menyoroti masalah ini dari Seoul.

Chae Su Jeong semula tak berniat menjadi pengungsi. Pada 2001, ia dan anak laki-lakinya yang masih kecil, mendapatkan surat dari sang suami yang hilang di Cina, beberapa tahun sebelumnya. Ia meminta mereka datang mengunjunginya, dan membayar beberapa calo untuk mengeluarkan mereka dari Korea Utara.

Setelah melintasi perbatasan, mereka diberikan paspor palsu dan naik pesawat yang mereka pikir menuju kota Dalian, Cina. Chae mengatakan sempat shok ketika pesawat itu mendarat di Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan.

“Waktu itu hati saya cepat berdebar. Ketika saya sadar pesawat mendarat di Korea Selatan, saya ingin langsung pulang lagi ke Korea Utara. Saya tidak berbicara kepada siapapun selama 20 hari. Setelah itu, saya menerima keadaan ini, demi anak laki-laki saya. Saya berpikir suami saya akan mengambil dia kalau saya memaksa untuk kembali ke Korea Utara.”

Tapi kini, ia tak menyesali keputusannya. Seperti 15 ribu warga Korea Utara lainnya yang membelot ke Korea Selatan, Chae menuturkan awalnya kaget melihat begitu banyak mobil dan tv berlayar besar. Ia bahkan heran melihat banyaknya mesin ATM.

Chae menceritakan meski bisa cepat beradaptasi dengan hal-hal itu, ia belum bisa lancar berkomunikasi dengan warga setempat.

Ia menuturkan tak menyadari betapa berbeda bahasa Korea Utara dan Korea Selatan, setelah ia bekerja di perusahaan daur ulang. Kata dia, dalam bahasa Korea Utara hanya ada satu kata untuk menyebut segala macam kertas. Tapi di sini ada banyak kata. Ia malu ketika tak mengerti apa yang dibicarakan teman-teman sekerjanya.

Bahasa Korea Utara, seperti bangsanya sendiri, sudah ketinggalan zaman. Pasalnya, negeri itu masih menggunakan kata-kata dan ungkapan yang tak lagi dipakai oleh warga Korea Selatan, dan maknanya pun sudah berbeda. Contohnya, orang Korea Utara menggunakan kata ben-tu untuk menyebut kotak makan. Kata ini memang digunakan di seluruh semenanjung Korea pada awal abad ke-20. Tapi kini, istilah itu sudah berubah menjadi to-shi-rak di Korea Selatan.

Lainnya adalah ungkapan “Il Op Sum Ni Da” yang berarti baik-baik saja. Di Korea Utara, ini adalah respon yang umum ketika seseorang menanyakan Apa kabar hari ini? Tapi di Korea Selatan, bila menggunakan frase ini dengan orang tertentu, maka punya konotasi yang tak sopan atau bisa bermakna berarti ‘pergi sana.’

Para pengungsi paling sulit beradaptasi dengan bahasa. Itu menurut Ko Gyoung Bin, direktur Hanowon, badan pemerintah Korea Selatan yang memberikan bimbingan bagi para pembelot yang baru tiba di negeri itu, supaya bisa beradaptasi dengan dunia kapitalis.

Mereka mencoba mengajarkan istilah yang baru lewat buku-buku pelajaran. Kata Ko, mereka juga diminta menonton film-film Korea Selatan supaya bisa belajar menggunakan bahasa itu. Ia menambahkan, Hanowon bahkan mempekerjakan mereka yang baru sebentar tinggal di Korea Selatan, supaya bisa membantu menterjemahkan.

Dialek daerah memang ada di seluruh Korea, jadi masalah perbedaan daerah tak telalu mempengaruhi perbedaan dalam bahasa kedua negeri itu. Seperti aspek lainnya dalam kehidupan Korea Utara, bahasa telah dimanipulasi untuk memuji para pemimpin negeri itu.

Kim Seok Hyang dosen di Jurusan Studi Unifikasi Korea. Ia telah menulis buku soal bagaimana warga Korea Utara menggunakan bahasa mereka. Kim memberikan contoh kata yang kini punya makna yang berbeda, sejak Semenanjung Korea pecah.

“Dalam bahasa Korea, sun-mul berarti hadiah untuk teman. Tapi sekarang orang Korea Utara hanya menggunakan kata ini untuk Kim Il Sung dan Kim Jong Il. Jadi hanya Kim Il Sung dan Kim Jong Il yang bisa memberikan sun mul kepada orang lain.”

Selain kesulitan bahasa ini, para pengungsi juga bingung dengan masuknya kata-kata dalam bahasa Inggris ke dalam bahasa Korea Selatan yang dikenal sebagai Konglish.

Seperti nama-nama produk teknologi modern. Bagaimana mungkin seseorang bisa menggunakan fax atau fotokopi dengan mesin Xerox kalau mereka tak pernah mendengar atau melihat barang-barang ini. Chae Su Jeong salah satu pembelot mengaku kesulitan belajar semua kata-kata baru ini.

“Saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan kamera. Di Korea Utara kamera disebut SAJINGI. Karena sekarang saya belajar bahasa Inggris, kehidupan sehari-hari saya semakin mudah. Tapi di universitas, saya tidak bisa mengikuti apa yang dikatakan para dosen dan mahasiswa karena mereka menggunakan begitu banyak kata-kata bahasa Inggris.“

Rezim Pyonyang tak hanya menghindari kata-kata bahasa Inggris dalam bahasa sehari mereka, tapi juga karakter bahasa Cina yang masih dipelajari di Korea Selatan.

Karena itulah orang Korea Utara yakin, mereka menggunakan bahasa tingkat tinggi. Bahkan mereka yang sudah membelot masih berpikiran seperti itu. Seperti yang dikatakan Kim Seok Hyang.

“Menurut para pembelot Korea Utara, mereka masih menggunakan bahasa yang asli dan ini cara mereka untuk melindungi orang Korea Utara dari hal-hal yang kotor di luar negerinya sendiri.”

Yang dimaksud dengan hal-hal yang kotor tentunya adalah kata-kata dalam bahasa Inggris dan Jepang.

Teman-teman Chae Su Jong mengatakan, ia telah kehilangan aksen Korea Utaranya. Tapi bagi Chae, ketika berbicara dengan pembelot lain atau ketika menggunakan bahasa itu, ia langsung teringat dengan kampung halamannya. Padahal sebelumnya ia tak meyangka bisa meninggalkan tempat itu.

“Saya merasa nyaman ketika bertemu dengan orang-orang asal Korea Utara. Saya bisa langsung menggunakan aksen Korea Utara saya. Saya masih canggung dan merasa terpaksa berbicara seperti orang Korea Selatan.“

Jadi kesimpulannya, Ha Ji Won belajar bahasa Korea Utara karena :

1.Adanya perbedaan dialek
2. Bahasa Korea Utara masih memakai bahasa asli korea yang belum tercampur pengaruh bahasa Inggris dan Jepang.
3. Ada beberapa kata-kata/kalimat yang penulisannya sudah berubah tapi artinya masih sama.

Semoga ini bisa membantu menjawab pertanyaan teman-teman..kalau belum jelas , silahkan tanya mbah googling juga ya atau kalau ada yang mau bantu menambah penjelasan ini, dipersilahkan...
Post By : HGY
SOurce : IniSajaMo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar